Beranda / Tentang
Tentang Keramik Mustika Klampok
Di balik setiap bentuk,
ada tangan dan waktu.
Mustika Keramik adalah ruang produksi, pertemuan, dan pembelajaran yang tumbuh bersama tradisi keramik Klampok.
Tentang kami
Bekerja dengan tanah, membuka pengalaman.
Di studio, keterampilan membentuk tanah diwariskan melalui praktik, percakapan, dan keberanian mencoba bentuk baru.
Keramik Mustika Klampok menjadi jembatan antara perajin, pengguna karya, institusi, dan generasi baru yang ingin belajar keramik.
Sejarah
Dari Klampok,
tumbuh lintas generasi.
Perjalanan Mustika berawal dari keterampilan yang dipelajari, dipraktikkan, lalu diwariskan di tengah tradisi keramik Klampok.
Sejarah Mustika Keramik tumbuh bersama perjalanan panjang kerajinan keramik di Klampok. Pada pertengahan abad ke-20, kawasan ini mulai dikenal sebagai salah satu sentra keramik di Jawa Tengah.
Salah satu usaha yang berperan penting pada masa awal tersebut adalah Keramik Meandallai, tempat banyak warga Klampok mengenal pekerjaan mengolah tanah liat menjadi benda pakai dan benda hias. Di lingkungan inilah Soeparyo mempelajari dasar-dasar perkeramikan di bawah bimbingan Kendar. Pengetahuannya kemudian diperkuat melalui kegiatan penelitian di Balai Besar Keramik Bandung pada 1970.
Baca sejarah selengkapnya Tutup cerita sejarah
Setelah memperoleh pengalaman dan bekal yang cukup, Soeparyo bersama istrinya, Siti Djoeriah, merintis usaha keramik keluarga. Mustika Keramik resmi berdiri pada 14 April 1976 di Klampok. Nama “Mustika” dipilih dari khazanah pewayangan dan dimaknai sebagai sesuatu yang indah atau baik—sebuah harapan agar karya yang dihasilkan mempunyai keindahan, kualitas, dan nilai seni. Pada masa awal, kegiatan produksi masih berlangsung dalam skala rumah tangga dengan melibatkan anggota keluarga. Peralatannya sederhana, jenis produknya belum banyak, dan warna terakota alami menjadi ciri utama. Poci, vas bunga, dan guci merupakan karya-karya pertama yang diproduksi.
Memasuki dekade 1980 hingga 1990-an, industri keramik Klampok berkembang pesat. Masa ini juga membawa pertumbuhan bagi Mustika. Produknya mulai dikenal lebih luas, memperoleh apresiasi dalam berbagai kegiatan pemerintah, dan menarik kunjungan industri dari sekolah maupun lembaga pendidikan. Poci kemudian menjadi salah satu produk utama yang menopang kegiatan produksi. Pada era 1990-an, produk keramik Mustika juga pernah menjangkau pasar luar negeri, antara lain Singapura, Malaysia, Jepang, Belanda, dan Australia.
Perjalanan usaha tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Perubahan pasar, keterbatasan tenaga terampil, serta proses produksi yang membutuhkan ketelitian dan waktu membuat industri keramik Klampok mengalami pasang surut. Setelah Soeparyo wafat pada 2001, keberlanjutan Mustika diteruskan oleh keluarga. Siti Djoeriah melanjutkan perannya sebagai pemilik, sementara Tri Mulyantoro mengambil tanggung jawab pengelolaan usaha. Pewarisan keterampilan berlangsung secara alami di dalam keluarga: melalui kebiasaan sejak kecil, pengamatan terhadap pekerjaan orang tua, praktik langsung, dan keterlibatan sehari-hari di lingkungan sanggar.
Seiring waktu, ragam produksi Mustika berkembang melampaui poci, vas, dan guci. Keramik hias, suvenir, celengan, perlengkapan makan dan minum, hingga berbagai pesanan khusus menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Meski bentuk dan motif terus bertambah, proses kerjanya tetap bertumpu pada pengetahuan material: menyiapkan dan menyaring tanah, membentuk, mengeringkan, menghaluskan, membakar, lalu memberi warna. Setiap tahap membutuhkan pengalaman karena perubahan cuaca, karakter tanah, dan suhu pembakaran dapat memengaruhi hasil akhirnya. Mustika juga membuka ruang bagi kunjungan dan pembelajaran, meneruskan hubungan yang telah lama terjalin antara sanggar, sekolah, masyarakat, dan para pencinta keramik.
Hari ini, Mustika Keramik berdiri bukan hanya sebagai tempat produksi dan pemasaran, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga pengetahuan keramik Klampok agar tetap hidup. Pengakuan Keramik Klampok sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2026 menegaskan pentingnya keterampilan tradisional ini bagi Banjarnegara. Bagi Mustika, sejarah bukan sesuatu yang berhenti di masa lalu. Ia terus hadir dalam tangan para perajin, dalam setiap proses pembentukan dan pembakaran, serta dalam pengalaman yang dibagikan kepada generasi berikutnya.
Narasi disusun dari penelitian Eduarts Universitas Negeri Semarang (2018), arsip ANTARA, informasi Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, dan keterangan keluarga Mustika.
Profil perajin
Orang-orang
di balik karya.
Mengenal orang-orang yang menjaga keterampilan keramik Klampok tetap hidup.
Kolaborasi pendidikan
Kerja Sama dengan FSRD ITB.
Kurikulum workshop
Belajar keramik secara terstruktur.
Mustika Keramik bekerja sama dengan tenaga ahli dan pengajar dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung dalam menyusun kurikulum workshop keramik. Kolaborasi ini dirancang untuk mempertemukan keterampilan perajin, proses kreatif, dan dasar-dasar desain dalam pengalaman belajar yang terarah dan mudah dipahami.
Sumbangsih digital
Membuka akses melalui website.
Pembuatan website Mustika Keramik juga merupakan hasil sumbangsih FSRD ITB. Kehadiran website ini diharapkan membantu masyarakat mengenal produk, proses produksi, sejarah, serta program workshop dan wisata edukasi Mustika Keramik dengan lebih mudah.